PEMAKNAAN SIMBOL DISKRIMINASI DAN PERLAWANAN PEREMPUAN DALAM FILM WOMEN FROM ROTE ISLAND
DOI:
https://doi.org/10.59895/deliberatio.v6i1.873Kata Kunci:
Film, Semiotika Roland Barthes, Teori Resepsi, Diskriminasi Perempuan, Perlawanan PerempuanAbstrak
Film merupakan media komunikasi massa yang memiliki kekuatan dalam merepresentasikan realitas sosial melalui simbol dan tanda visual. Salah satu isu sosial yang sering diangkat dalam film adalah diskriminasi terhadap perempuan serta bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan dalam menghadapi sistem patriarki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk diskriminasi terhadap perempuan yang ditampilkan dalam film Women from Rote Island, mengidentifikasi bentuk perlawanan perempuan yang direpresentasikan dalam film tersebut, serta memahami bagaimana anggota Komunitas Film Kupang memaknai simbolisasi diskriminasi dan perlawanan perempuan yang disajikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui analisis teks film dan wawancara mendalam dengan anggota Komunitas Film Kupang sebagai informan. Analisis data menggunakan teori semiotika Roland Barthes yang meliputi makna denotasi, konotasi, dan mitos untuk mengungkap simbolisasi diskriminasi dan perlawanan perempuan dalam film, serta teori resepsi untuk mengetahui proses pemaknaan penonton terhadap film tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Women from Rote Island merepresentasikan diskriminasi terhadap perempuan melalui simbol kekerasan seksual, stigma sosial, pembungkaman suara perempuan, dan dominasi budaya patriarki. Sementara itu, bentuk perlawanan perempuan ditampilkan melalui keberanian tokoh perempuan dalam melawan budaya diam, mempertahankan martabat diri, serta upaya menolak ketidakadilan yang dialaminya. Resepsi anggota Komunitas Film Kupang menunjukkan bahwa film ini dimaknai sebagai refleksi realitas sosial perempuan di NTT, sekaligus sebagai kritik sosial terhadap praktik diskriminasi dan kekerasan berbasis gender. penelitian ini menyarankan agar film dimanfaatkan secara maksimal sebagai media komunikasi yang bersifat edukatif dan reflektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Fransiska Delsita Dama, Mikhael Rajamuda Bataona

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.












