https://deliberatio.net/index.php/jikom/issue/feedDeliberatio: Jurnal Mahasiswa Komunikasi2026-07-22T17:22:00+07:00Herman Elfridus Seran, S.Sos., M.I.Komelfrid140127@gmail.comOpen Journal Systems<p>Jurnal Deliberatio merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Nusa Cendana, Kupang, NTT sejak 2021.</p> <p>Jurnal ini ditujukan untuk mengembangkan dan memublikasikan berbagai karya keilmuan mahasiswa Ilmu komunikasi berdasarkan hasil telaahan (penelitian lapangan), book review, dan atau Penelitian Kepustakaan (Library Research) tentang ilmu komunikasi.</p> <p> </p> <h1>Fokus dan Ruang Lingkup</h1> <p>Fokus dan ruang lingkup <strong>Jurnal Deliberatio </strong>yakni Ilmu Komunikasi, meliputi kajian media digital dan konten kreatif, kajian jurnalisme, kajian hubungan masyarakat, studi budaya dan pariwisata, dan topik-topik lain yang sejenis/relevan dengan bidang komunikasi.</p>https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/877Mediatisasi Olahraga sebagai Tontonan: Tinjauan Naratif Ekonomi Politik Bulu Tangkis di Indonesia2026-04-13T14:48:19+07:00Ambar Alimatur Rosyidahambar_alimatur.ilkom@upnjatim.ac.idAdhara Suwantaadhara_suwanta.ilkom@upnjatim.ac.idMuhammad Rifky Raditya Firdausrifkyrafir05@gmail.com<p>Mediatisasi olahraga berperan dalam kompleksitas bulu tangkis dengan spektrum pengalaman budaya dan hiburan yang luas. Di Indonesia, bulu tangkis merupakan contoh utama bagaimana narasi media, platform daring, dan logika pasar mendefinisikan kembali relevansi budaya dan nilai komersial olahraga ini. Melalui mediatisasi, makna dan nilai inti bulu tangkis tidak hanya dipengaruhi tetapi juga direkonstruksi secara fundamental. Penelitian ini bertujuan untuk memahami mediatisasi olahraga dan ekonomi politik bulu tangkis. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan naratif dengan perspektif masyarakat tontonan dari Guy Debord. Kriteria pencarian menggunakan kata kunci ‘komunikasi olahraga’, ‘tontonan olahraga’, ‘bulu tangkis di Indonesia’, dan ‘mediatisasi olahraga’ dalam kurun waktu 2016-2025. Penelitian ini mengidentifikasi tiga tema utama yang menjadi kerangka analisis, yaitu mediatisasi olahraga sebagai tontonan tanpa batas, ekonomi politik bulu tangkis, serta budaya visual yang membentuk ilusi persatuan. Penelitian ini menunjukkan bahwa bulu tangkis telah bertransformasi dari olahraga berbasis keterampilan fisik menjadi mega-spectacle global yang beroperasi dalam logika kapitalisme media dengan adanya mediatisasi dan komodifikasi. Budaya visual dalam bulu tangkis menciptakan ilusi persatuan melalui nasionalisme yang termediasi, namun pada saat yang sama tersembunyi fragmentasi, ketimpangan akses, dan eksploitasi dalam ekosistem media olahraga.</p>2026-04-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Ambar Alimatur Rosyidah, Adhara Suwanta, Muhammad Rifky Raditya Firdaushttps://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/880PENGARUH PROMOSI DIGITAL TIKTOK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN GENERASI Z JAKARTA DENGAN MEDIASI E-WOM2026-04-23T13:14:24+07:00Aisha Anindya Salsabila842022004@student.uksw.eduRini Darmastuti842022004@student.uksw.eduDeasy Carolina842022004@student.uksw.edu<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh promosi digital terhadap keputusan pembelian dengan <em>Electronic Word of Mouth</em> (E-WOM) sebagai variabel mediasi pada Generasi Z pengguna TikTok di Jakarta. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pesatnya pertumbuhan TikTok sebagai platform pemasaran digital serta tingginya intensitas penggunaan oleh Generasi Z yang menjadikannya kelompok konsumen potensial. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan paradigma positivistik dan desain <em>explanatory research</em>. Sampel penelitian berjumlah 107 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan skala Likert, kemudian dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas, asumsi klasik, uji hipotesis, dan analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi digital berpengaruh signifikan terhadap E-WOM dan keputusan pembelian dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Selain itu, E-WOM juga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian serta mampu memediasi hubungan antara promosi digital dan keputusan pembelian dengan nilai uji Sobel sebesar 4,37 > 1,96. Temuan ini menegaskan bahwa interaksi pengguna melalui ulasan, komentar, dan rekomendasi di TikTok menjadi faktor penting dalam membentuk keputusan pembelian Generasi Z. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan teori pemasaran digital serta menjadi referensi bagi pelaku usaha dalam merancang strategi promosi yang lebih efektif.</p> <p> </p>2026-04-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Aisha Anindya Salsabila, Rini Darmastuti, Deasy Carolinahttps://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/871Platformized Youth Engagement: Institutional Political Communication on Instagram in Indonesia's 2024 Election2026-04-16T09:24:21+07:00Frederik Masri Gasafrederik.gasa@binus.eduAlbertus Dewa Putra Agungalbertus.agung@binus.ac.idFelisianus Novandri Rahmatfelisianus.novandri@mncu.ac.id<p>Platformisasi komunikasi politik telah mengubah secara mendasar cara lembaga penyelenggara pemilu menjangkau pemilih muda, namun bagaimana institusi negara secara strategis mengonstruksi keterlibatan politik Generasi Z dalam ruang publik yang terplatformisasi masih belum dipahami secara memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) mengonstruksi keterlibatan politik pemilih pemula Generasi Z melalui Instagram selama Pemilihan Umum 2024, serta mengidentifikasi mekanisme keterlibatan yang dihasilkan dari beragam logika konten institusional. Dengan pendekatan kualitatif dan metode analisis isi terarah terhadap unggahan Instagram KPU RI periode 18 Desember 2023 sampai 18 Februari 2024, penelitian ini mengintegrasikan kerangka Four Pillars of Social Media Strategy dan model Stimulus–Organism–Response (SOR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa KPU RI menerapkan strategi konten multidimensional—edukatif, hiburan, kolaboratif, dan partisipatif—yang memicu beragam mekanisme keterlibatan, mulai dari legitimasi sipil rasional hingga partisipasi afektif dan performatif. Keterlibatan yang terbentuk cenderung berupa visibilitas simbolik dan ekspresi diri, selaras dengan praktik media digital Generasi Z, namun tidak berkorelasi langsung dengan perilaku elektoral. Temuan ini berkontribusi pada kajian komunikasi politik dengan mengungkap mekanisme simbolik yang menghubungkan desain konten institusional dengan respons Generasi Z, sekaligus mengisi kesenjangan riset pada konteks demokrasi non-Barat yang terplatformisasi.</p>2026-04-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Frederik Masri Gasa, Albertus Dewa Putra Agung, Felisianus Novandri Rahmathttps://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/889Strategi Komunikasi Digital KKP dalam Kampanye Swasembada Garam melalui Instagram @kkpgoid2026-05-20T12:22:20+07:00Aulia Herlitaherlitaaulia14@gmail.comVivien Febri Astutiherlitaaulia14@gmail.com<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya komunikasi digital dalam menyampaikan kebijakan publik melalui media sosial, khususnya Instagram. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi digital Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam kampanye Swasembada Garam melalui Instagram @kkpgoid serta mengetahui kendala yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi konten <em>feeds, reels, story, dan caption </em>Instagram @kkpgoid, serta studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model RACE (<em>Research, Action, Communication, Evaluation</em>). Hasil penelitian menunjukkan bahwa KKP telah menerapkan strategi komunikasi digital melalui tahap riset, perencanaan, pelaksanaan komunikasi, dan evaluasi. Strategi yang dilakukan meliputi penggunaan konten visual informatif, penyederhanaan pesan kebijakan, serta pemanfaatan fitur <em>reels</em> dan <em>caption</em> yang komunikatif sesuai karakteristik audiens digital. Namun, pelaksanaan komunikasi digital masih menghadapi kendala, seperti pengemasan pesan kebijakan yang kompleks, audiens yang heterogen, dinamika algoritma media sosial, serta pengukuran dampak komunikasi yang masih berfokus pada indikator kuantitatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi komunikasi digital KKP telah menerapkan seluruh tahapan model RACE, tetapi belum optimal pada aspek interaktivitas dan evaluasi dampak komunikasi. Penelitian ini merekomendasikan penguatan komunikasi yang lebih partisipatif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan audiens, serta evaluasi yang tidak hanya berfokus pada <em>engagement</em>, tetapi juga pada pemahaman dan partisipasi publik terhadap program Swasembada Garam.</p>2026-04-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Aulia Herlita, Vivien Febri Astutihttps://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/903Strategi Komunikasi Manajemen Artis Melalui Personal Branding dalam Membangun Eksistensi Musisi Anggis Devaki2026-06-15T15:10:15+07:00Seanyca P. A. Marassingtislzk25@gmail.comMarshelia Gloria Naridamarshelia.gloria@uki.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi <em>personal branding</em> Anggis Devaki yang dibentuk dan dikembangkan oleh PT. Star Media Nusantara sebagai manajemen artis dalam membangun eksistensinya melalui media sosial : Instagram, TikTok, dan YouTube. Penelitian menggunakan konsep <em>Personal Branding</em> dan <em>Communication Strategies</em> (Strategi Komunikasi). Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap enam narasumber dari divisi <em>Marketing Communication</em> PT. Star Media Nusantara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>personal branding</em> Anggis Devaki dibangun melalui proses strategi komunikasi yang diawali dengan identifikasi karakter asli, pemetaan citra diri, perencanaan pesan, serta kolaborasi lintas divisi. Identitas yang dibangun menempatkan Anggis sebagai musisi <em>pop ballad </em>muda dengan karakter <em>girly, playful</em>, emosional, dan autentik. Implementasi strategi dilakukan melalui kombinasi aktivitas <em>online</em> dan <em>offline</em>, dengan media sosial sebagai sarana utama untuk membangun identitas visual, meningkatkan <em>engagement</em>, serta menciptakan hubungan emosional dengan audiens. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi komunikasi yang terencana, konsisten, dan autentik berperan penting dalam membangun, mengelola, dan mempertahankan <em>personal branding</em> serta eksistensi Anggis Devaki di industri musik digital. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji efektivitas personal branding terhadap persepsi audiens, tingkat <em>engagement</em>, dan loyalitas penggemar pada berbagai platform media sosial dengan menggunakan pendekatan yang lebih beragam.</p>2026-04-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Seanyca P. A. Marassing, Marshelia Gloria Naridahttps://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/906Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce terhadap Konten Meme Kritik Banjir Sumatera 2025 di Instagram2026-06-19T14:21:47+07:00Adinda Dwi Aulia2210631190123@student.unsika.ac.idEmaema@fisip.unsika.ac.idHendry Roris Sianturihendry.roris@fisip.unsika.ac.id<p>Perkembangan media sosial telah mendorong munculnya meme sebagai salah satu bentuk komunikasi digital yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana penyampaian kritik sosial terhadap berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat, termasuk bencana banjir Sumatera tahun 2025. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kritik sosial yang terkandung dalam meme banjir Sumatera 2025 yang beredar di Instagram menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma interpretif. Data penelitian berupa sepuluh meme yang dipilih secara purposive dari akun-akun Instagram yang memuat konten terkait banjir Sumatera 2025. Analisis data dilakukan menggunakan konsep triadic sign yang meliputi representamen, objek, dan interpretant. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meme merepresentasikan berbagai bentuk kritik sosial, seperti kritik terhadap kebijakan pemerintah, birokrasi penyaluran bantuan, praktik korupsi dana bencana, eksploitasi lingkungan, serta lemahnya pengawasan terhadap sumber daya alam. Makna kritik dibangun melalui kombinasi elemen visual dan teks yang memanfaatkan satire, ironi, dan humor sebagai strategi komunikasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meme berfungsi sebagai media alternatif bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan kritik sosial secara kreatif di ruang digital. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengombinasikan pendekatan semiotika dengan analisis resepsi audiens guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dampak dan penerimaan pesan kritik dalam meme.</p>2026-04-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Adinda Dwi Aulia, Ema Ema, Hendry Roris Sianturihttps://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/873PEMAKNAAN SIMBOL DISKRIMINASI DAN PERLAWANAN PEREMPUAN DALAM FILM WOMEN FROM ROTE ISLAND2026-05-24T22:18:55+07:00Fransiska Delsita Damainstagramdelldama@gmail.comMikhael Rajamuda Bataonaerlandlamalera@gmail.com<p>Film merupakan media komunikasi massa yang memiliki kekuatan dalam merepresentasikan realitas sosial melalui simbol dan tanda visual. Salah satu isu sosial yang sering diangkat dalam film adalah diskriminasi terhadap perempuan serta bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan dalam menghadapi sistem patriarki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk diskriminasi terhadap perempuan yang ditampilkan dalam film <em>Women from Rote Island</em>, mengidentifikasi bentuk perlawanan perempuan yang direpresentasikan dalam film tersebut, serta memahami bagaimana anggota Komunitas Film Kupang memaknai simbolisasi diskriminasi dan perlawanan perempuan yang disajikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui analisis teks film dan wawancara mendalam dengan anggota Komunitas Film Kupang sebagai informan. Analisis data menggunakan teori semiotika Roland Barthes yang meliputi makna denotasi, konotasi, dan mitos untuk mengungkap simbolisasi diskriminasi dan perlawanan perempuan dalam film, serta teori resepsi untuk mengetahui proses pemaknaan penonton terhadap film tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film <em>Women from Rote Island </em>merepresentasikan diskriminasi terhadap perempuan melalui simbol kekerasan seksual, stigma sosial, pembungkaman suara perempuan, dan dominasi budaya patriarki. Sementara itu, bentuk perlawanan perempuan ditampilkan melalui keberanian tokoh perempuan dalam melawan budaya diam, mempertahankan martabat diri, serta upaya menolak ketidakadilan yang dialaminya. Resepsi anggota Komunitas Film Kupang menunjukkan bahwa film ini dimaknai sebagai refleksi realitas sosial perempuan di NTT, sekaligus sebagai kritik sosial terhadap praktik diskriminasi dan kekerasan berbasis gender. penelitian ini menyarankan agar film dimanfaatkan secara maksimal sebagai media komunikasi yang bersifat edukatif dan reflektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan.</p>2026-04-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Fransiska Delsita Dama, Mikhael Rajamuda Bataonahttps://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/872Analisis Wacana Kritis Konten Youtube Ferry Irwandi Tentang Aksi Massa Agustus 2025 2026-06-22T11:36:13+07:00Fransiskus Karlos Paschaliano Riberuchasperlewolere@gmail.comMikhael Rajamuda Bataonaerlandlamalera@gmail.com<p>Penelitian ini menganalisis persoalan pokok bagaimana hubungan bahasa, ideologi dan kekuasaaan pada konten YouTube Ferry Irwandi tentang aksi massa pada bulan Agustus 2025. Jenis penelitian ini ialah deskriptif-kualitatif. Metode yang digunakan ialah Analisis Wacana Kritis model Teun A. Van Djik. Pada penelitian ini terdapat tiga dimensi yang menjadi acuan dan parameter penelitian yakni dimensi teks, kognisi sosial dan kontek sosial. Data primer yang digunakan adalah dua konten YouTube Ferry Irwandi tentang aksi massa pada bulan Agustus 2025. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan atau relasi yang erat antara bahasa, ideologi dan kekuasaan pada konten YouTube Ferry Irwandi tentang aksi massa pada bulan Agustus 2025. Relasi ini terlihat pada dimensi-dimensi dalam teks atau wacana yakni dimensi teks, kognisi sosial, dan konteks sosial pada dua konten YouTube Ferry Irwnadi tentang aksi massa pada bulan Agustus 2025. Ferry Irwandi sebagai komunikator memanaipulasi bahasa sebagai medan kekuasaan yakni pengatahuan tentang ruang <em>cyber </em>untuk menentang kekuasaan lainnya yang berada di masyarakat. Ferry juga memanipulasi bahasa sebagai alat komunikasi sekaligus sebagai sarana untuk mentransfer ideologi tentang demokrasi. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan analsis wacana kritis dengan model yang berbeda serta pada subjek yang berbeda untuk menghasilkan analisis wacana kritis yang lebih variatif.</p>2026-04-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Fransiskus Karlos Paschaliano Riberu, Mikhael Rajamuda Bataonahttps://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/935STRATEGI PRODUKSI KONTEN BERITA PADA PLATFORM TIKTOK @soloposofficial DALAM MENINGKATKAN ENGAGEMENT AUDIENS2026-07-18T20:25:06+07:00Viola Puspitaningrum362023602@student.uksw.eduRendy Hermanto Abraham RendyHA@staff.uksw.eduDewi Kartika Saridewikartika@staff.uksw.edu<p>Pergeseran pola konsumsi informasi menuju media digital menuntut perusahaan pers untuk terus beradaptasi, salah satunya melalui pemanfaatan platform TikTok sebagai saluran distribusi berita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi produksi konten berita yang diterapkan oleh akun TikTok @soloposofficial dalam upaya meningkatkan keterlibatan audiens. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif eksploratif dengan pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta tinjauan pustaka. Analisis berlandaskan pada konsep Media Baru dan <em>The Circular Model of SOME </em>yang mencakup <em>Share, Optimize, Manage,</em> dan <em>Engage</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses produksi dijalankan secara dinamis mulai dari perencanaan, verifikasi sumber, penyuntingan, hingga distribusi. Implementasi elemen <em>Share</em> diwujudkan melalui penargetan audiens generasi muda. Elemen <em>Optimize</em> diterapkan melalui penulisan takarir 5W+1H dan pemanfaatan audio populer. Elemen <em>Manage</em> bertumpu pada evaluasi kinerja analitik tanpa interaksi langsung demi netralitas. Elemen <em>Engage</em> dicapai dengan mengangkat isu berkedekatan emosional tinggi. Strategi ini berdampak terukur, melampaui target dengan capaian jangkauan lebih dari 150 juta pengguna dan 6 juta interaksi pada tahun 2025. Sebagai implikasi praktis, pengelola media disarankan untuk mendokumentasikan standar alur kerja redaksional secara formal guna mempertahankan konsistensi kualitas produksi konten secara berkelanjutan.</p>2026-04-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Viola Puspitaningrum, Rendy Hermanto Abraham , Dewi Kartika Sarihttps://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/942PERSONAL BRANDING MAHASISWA GEN Z DALAM PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM2026-07-22T17:22:00+07:00Dini Regista Puspitasaridiniregistapsptsr@gmail.comAgus Triyonoagustriyono7@dsn.dinus.ac.id<p>Perkembangan media sosial telah menjadikan Instagram sebagai salah satu platform utama yang digunakan mahasiswa Generasi Z untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan membangun <em>personal branding</em>. Penelitian ini bertujuan menganalisis <em>personal branding</em> mahasiswa Generasi Z dalam penggunaan media sosial Instagram. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan delapan mahasiswa Generasi Z berusia 19–23 tahun yang berdomisili di Kota Semarang dan aktif menggunakan Instagram. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa membangun <em>personal branding</em> melalui proses seleksi konten, pemanfaatan fitur Instagram seperti <em>feed, story, dan reels</em>, serta penyesuaian cara menampilkan diri berdasarkan karakteristik audiens dan jenis akun. Informan cenderung menampilkan sisi diri yang positif, menjaga konsistensi identitas digital, dan mempertimbangkan respons audiens dalam membentuk kesan yang diinginkan. Temuan ini menunjukkan bahwa <em>personal branding</em> di Instagram dilakukan secara sadar dan strategis sebagai upaya membangun identitas digital yang positif. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan informan yang lebih beragam, membandingkan pada berbagai platform media sosial, serta menggunakan pendekatan penelitian yang berbeda guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.</p>2026-04-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Dini Regista Puspitasari, Agus Triyono