Deliberatio: Jurnal Mahasiswa Komunikasi https://deliberatio.net/index.php/jikom <p>Jurnal Deliberatio merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Nusa Cendana, Kupang, NTT sejak 2021.</p> <p>Jurnal ini ditujukan untuk mengembangkan dan memublikasikan berbagai karya keilmuan mahasiswa Ilmu komunikasi berdasarkan hasil telaahan (penelitian lapangan), book review, dan atau Penelitian Kepustakaan (Library Research) tentang ilmu komunikasi.</p> <p> </p> <h1>Fokus dan Ruang Lingkup</h1> <p>Fokus dan ruang lingkup <strong>Jurnal Deliberatio </strong>yakni Ilmu Komunikasi, meliputi kajian media digital dan konten kreatif, kajian jurnalisme, kajian hubungan masyarakat, studi budaya dan pariwisata, dan topik-topik lain yang sejenis/relevan dengan bidang komunikasi.</p> id-ID elfrid140127@gmail.com (Herman Elfridus Seran, S.Sos., M.I.Kom) jikom.undana@gmail.com (Sharon Claudia Rambu Podu Diah, S.I.Kom., M.A.) Sat, 31 Oct 2026 00:00:00 +0700 OJS 3.3.0.11 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Ableism dan Konstruksi Normalitas Tubuh dalam Film Big World: Analisis Semiotika Roland Barthes https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/904 <p>Sebagai media komunikasi massa, film memiliki tujuan untuk menyampaikan pesan dan dapat menjadi ruang produksi makna. Dalam hal ini, suatu pesan atau makna tidak hadir begitu saja melainkan diciptakan melalui simbol-simbol seperti dialog, <em>setting</em>, <em>gesture</em>, hingga penokohan. Penyandang disabilitas dalam film sering kali dibingkai melalui narasi yang menempatkan mereka sebagai sosok yang lemah dan bergantung sehingga berpotensi menghasilkan <em>ableism, </em>yaitu suatu pandangan yang berkaitan dengan standar tubuh tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana <em>ableism</em> dan normalitas tubuh dimaknai dalam film <em>Big World.</em> Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna denotasi dalam film <em>Big World </em>ditunjukkan melalui ejekan, diskriminasi, serta stereotip terhadap penyandang <em>cerebral palsy</em>. Makna konotasi menunjukkan bahwa penyandang <em>cerebral palsy</em> dinilai sebagai individu yang tidak mampu, baik secara fisik maupun intelektual sehingga keberadaannya sering kali diragukan dalam aktivitas tertentu. Sementara mitos dalam film ini memaknai adanya kepercayaan yang menempatkan tubuh normal sebagai standar utama dalam menentukan kemampuan seseorang sehingga penyandang <em>cerebral palsy</em> dinilai sebagai tidak kompeten. Kajian ini merekomendasikan agar isu <em>ableism</em> dan normalitas tubuh mendapat atensi yang lebih luas. Kajian serupa perlu terus dilakukan guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memahami dan menghargai keberagaman tubuh sebagai bagian dari realitas sosial yang perlu diterima dan dihargai.</p> Siti Sephira Rindhu Mairida, Fajar Hariyanto, Nurkinan Hak Cipta (c) 2026 Siti Sephira Rindhu Mairida, Fajar Hariyanto, Nurkinan https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/904 Sat, 10 Oct 2026 00:00:00 +0700 Komunikasi Partisipatif Pokdarwis dalam Pengembangan Desa Wisata Payung-Payung, Kabupaten Berau https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/967 <p>Penelitian ini mengkaji komunikasi partisipatif Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Batu Payung dalam pengembangan Desa Wisata Payung-Payung, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Penelitian ini dilatarbelakangi pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengembangan desa wisata, termasuk perlunya melihat proses komunikasi antara Pokdarwis dan masyarakat. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan mengidentifikasi komunikasi partisipatif yang dilakukan Pokdarwis Batu Payung dalam pengembangan Desa Wisata Payung-Payung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus instrumental. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi serta dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Teori yang digunakan adalah <em>Dialogic Theory of</em> <em>Public Relations</em> dari Kent dan Taylor (2002), dengan indikator komunikasi partisipatif dari Tufte dan Mefalopulos (2009) terdiri dari <em>dialogue, voice, liberating pedagogy</em>, dan <em>action-reflection-action</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi partisipatif Pokdarwis Batu Payung telah terpenuhi secara struktural melalui keempat indikator tersebut. <em>Dialogue</em> berlangsung melalui musyawarah, rapat, komunikasi informal, dan media digital. <em>Voice</em> terlihat dari penyampaian aspirasi masyarakat yang sebagian diwujudkan dalam program. <em>Liberating pedagogy</em> berlangsung melalui pelatihan sesuai potensi lokal. <em>Action-reflection-action</em> terlihat melalui evaluasi dan tindak lanjut. Namun, komunikasi belum sepenuhnya inklusif dan merata, ditandai adanya kesenjangan informasi, keterlibatan perempuan dan pemuda yang belum merata, serta belum optimalnya koordinasi antara Pokdarwis dan BUMK yang dipengaruhi oleh ego sektoral antarlembaga. Penelitian selanjutnya, dapat mengkaji pemanfaatan media digital dan keterlibatan pemuda serta perempuan dalam pengambilan keputusan pengembangan desa wisata.</p> Mesy Ardila, Rina Juwita, Kezia Arum Sary, Ziya Ibrizah Hak Cipta (c) 2026 Mesy Ardila, Rina Juwita, Kezia Arum Sary, Ziya Ibrizah https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/967 Sat, 10 Oct 2026 00:00:00 +0700 Komunikasi CSR Digital dan Persepsi Konsumen: Studi Langkah Hijau Grab di Indonesia https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/973 <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara keberadaan fitur <em>Corporate Social Responsibility</em> (CSR) digital dan pemahaman serta keterlibatan konsumen terhadap program Langkah Hijau Grab di Indonesia. Dalam perspektif komunikasi, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mengkaji bagaimana pesan CSR disampaikan melalui platform digital, dimaknai oleh konsumen, serta berkontribusi terhadap pembentukan persepsi dan reputasi perusahaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemahaman konsumen terhadap program Langkah Hijau, persepsi mengenai motivasi perusahaan dalam menjalankan CSR, reputasi Grab, serta keterkaitan pemaknaan terhadap program dengan perilaku konsumsi konsumen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode <em>Focus Group Discussion</em> (FGD) dan wawancara mendalam terhadap enam pengguna aktif Grab yang dipilih secara purposif. Penelitian ini berfokus pada eksplorasi mendalam terhadap persepsi dan pengalaman informan, sehingga temuannya tidak ditujukan untuk generalisasi statistik terhadap seluruh pengguna Grab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman konsumen mengenai tujuan, mekanisme, dan dampak program masih terbatas. Sebagian informan memahami program secara lebih mendalam, terutama mereka yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Persepsi terhadap kredibilitas program juga beragam, mulai dari penerimaan positif hingga skeptisisme mengenai kemungkinan pencitraan perusahaan. Program Langkah Hijau berpotensi memengaruhi preferensi dan loyalitas konsumen, meskipun pengaruh tersebut belum dirasakan secara merata. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi CSR digital tidak cukup hanya menyediakan fitur, tetapi juga perlu menyampaikan pesan yang jelas, transparan, dan dapat dipahami konsumen. Oleh karena itu, Grab perlu meningkatkan visibilitas informasi program, menyampaikan laporan dampak yang terukur, serta mengembangkan komunikasi dua arah guna memperkuat kepercayaan dan keterlibatan konsumen.</p> Kevin Rafi Diaz Sandio Hak Cipta (c) 2026 Kevin Rafi Diaz Sandio https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/973 Mon, 26 Oct 2026 00:00:00 +0700 Strategi Public Relations Dinas Dukcapil Kota Salatiga dalam Mendukung Peningkatan Pelayanan Publik https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/966 <p>Penyelenggaraan pelayanan administrasi kependudukan menuntut instansi pemerintah menyediakan layanan serta komunikasi responsif. Strategi <em>Public Relations</em> berperan menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan perencanaan, pelaksanaan, komunikasi, dan evaluasi pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi <em>Public Relations</em> Dinas Dukcapil Kota Salatiga dalam mendukung peningkatan pelayanan publik menggunakan model <em>Research, Action, Communication</em>, dan <em>Evaluation</em> (RACE), komunikasi <em>Two-Way Symmetric</em> dan Pelayanan Prima. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan <em>purposive sampling</em>. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman serta diuji melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan strategi <em>Public Relations</em> membentuk proses RACE yang utuh. <em>Research</em> dilakukan melalui pengaduan dan umpan balik masyarakat; <em>action</em> melalui pelayanan proaktif, termasuk jemput bola dan perekaman KTP elektronik di sekolah; <em>communication</em> melalui komunikasi internal, tatap muka, serta media digital; <em>evaluation</em> melalui Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM), rapat internal, dan pemantauan umpan balik digital. Namun, ditemukan tiga persoalan, yaitu program pelayanan situasional, konsistensi prosedur pelayanan perlu diperkuat, dan respons terhadap umpan balik digital belum konsisten. Temuan ini menunjukkan strategi <em>Public Relations</em> merupakan komunikasi adaptif yang menghubungkan identifikasi kebutuhan, tindakan pelayanan, komunikasi dua arah, dan evaluasi berkelanjutan. Penelitian selanjutnya dapat mengkaji instansi pelayanan publik lain dengan informan berbeda atau menggunakan <em>mixed methods</em>.</p> Veny Arnelita Sinurat, Zon Vanel Hak Cipta (c) 2026 Veny Arnelita Sinurat, Zon Vanel https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/966 Mon, 26 Oct 2026 00:00:00 +0700 Pola Komunikasi Tokoh Masyarakat dalam Mendorong Partisipasi Warga Dusun Pendem https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/958 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola komunikasi tokoh masyarakat dalam mendorong partisipasi warga pada kegiatan kemasyarakatan di Dusun Pendem, Desa Tlogowungu, Kabupaten Temanggung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan tujuh informan yang terdiri atas kepala dusun, ketua RW, dua ketua RT, dan tiga warga. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperiksa menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi tokoh masyarakat bersifat partisipatif dan mengandalkan komunikasi interpersonal. Komunikasi dilakukan secara dua arah dan persuasif, didukung koordinasi berjenjang melalui RT dan RW serta pemanfaatan WhatsApp untuk menyampaikan informasi kegiatan. Komunikasi tatap muka dan media digital digunakan secara saling melengkapi untuk menjangkau warga. Partisipasi warga didukung oleh kedekatan sosial, kepercayaan, dan semangat gotong royong. Namun, kesibukan pekerjaan, keterbatasan waktu, dan kondisi fisik sebagian warga menjadi kendala dalam mengikuti kegiatan. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji pola komunikasi pada konteks masyarakat yang berbeda serta mendalami pengalaman warga dalam memaknai komunikasi tokoh masyarakat dan keterlibatan mereka dalam kegiatan kemasyarakatan.</p> Octasila Gita Cahyani, Ayuning Wulan Hak Cipta (c) 2026 Octasila Gita Cahyani, Ayuning Wulan https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/958 Mon, 26 Oct 2026 00:00:00 +0700 Praktik Komunikasi Program Dongeng Online Melalui Instagram Dalam Mendukung Penyampaian Informasi Masyarakat https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/957 <p>Literasi informasi masyarakat menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam memahami, memilih, dan memanfaatkan informasi. Program Dongeng Online (DOLEN) yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu program yang memanfaatkan <em>storytelling</em> dan media digital untuk menyampaikan pesan literasi dan informasi kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik komunikasi Program DOLEN dalam mendukung penyampaian informasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dari Robert K. Yin. Data penelitian diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan lima informan yang terlibat dalam pelaksanaan program, serta melalui observasi terhadap kegiatan Program DOLEN. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik komunikasi Program DOLEN dilakukan dengan menerapkan seluruh unsur komunikasi dari Lasswell yang meliputi komunikator, pesan, media, khalayak, dan efek. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa praktik komunikasi Program DOLEN telah diwujudkan melalui pemanfaatan media baru (Instagram) dengan mengusung konsep <em>storytelling</em>. Instagram <em>Live</em> menjadi medium penyampaian pesan dan interaksi, sedangkan <em>storytelling</em> menjadi bentuk komunikasi edukatif dalam penyampaian pesan. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa Instagram <em>Live</em> tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian informasi, tetapi juga sebagai ruang interaksi yang memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah. Sementara itu, penggunaan <em>storytelling</em> membuat pesan edukatif lebih menarik, mudah dipahami, dan relevan bagi audiens.</p> Zhafira Aizzahrani, Teguh Dwi Putranto Hak Cipta (c) 2026 Zhafira Aizzahrani, Teguh Dwi Putranto https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/957 Mon, 26 Oct 2026 00:00:00 +0700 Normalisasi Cyberbullying Politik Berbasis GenAI dalam Komunikasi Politik di Instagram https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/956 <p>Penelitian ini mengkaji bagaimana cyberbullying politik dinormalisasi melalui komunikasi partisipatif pada kolom komentar Instagram yang merespons konten hiburan politik berbasis generative artificial intelligence (GenAI) di Indonesia. Penelitian berangkat dari persoalan komunikasi tentang bagaimana representasi politik memperoleh makna sosial melalui respons, pengulangan, dan validasi antarpengguna. Tujuannya adalah mengidentifikasi pola partisipasi, bentuk cyberbullying, dan mekanisme normalisasi yang muncul dalam interaksi komentar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi dan analisis tematik induktif terhadap 952 komentar dari sepuluh unggahan Instagram yang menampilkan tokoh politik Indonesia dalam format satire, parodi, atau hiburan berbasis AI. Hasil menunjukkan bahwa humor, ikut tren, dan interaksi antarpengguna menjadi bentuk partisipasi utama, sementara cyberbullying muncul melalui ejekan, julukan negatif, sarkasme, penghinaan, dan body shaming. Normalisasi tampak ketika ekspresi agresif memperoleh tawa, dukungan, mention, dan pengulangan label dari pengguna lain. Penelitian menyimpulkan bahwa cyberbullying dapat menjadi praktik komunikasi kolektif ketika partisipasi memberikan validasi sosial terhadap agresi. Penelitian lanjutan disarankan membandingkan platform dan jenis konten, menganalisis unsur visual GenAI, serta mewawancarai pengguna untuk memahami batas yang mereka tetapkan antara humor, kritik politik, dan perundungan.</p> Nicholas Reynard, Ana Kuswanti, Rini Riyantini Hak Cipta (c) 2026 Nicholas Reynard, Ana Kuswanti, Rini Riyantini https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/956 Mon, 26 Oct 2026 00:00:00 +0700 Etnografi Komunikasi: Konstruksi Opini Publik Tradisi Akkarungeng Pilkades Soppeng https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/955 <p>Pada era post-truth, banjir informasi dan rumor politik di media sosial dapat memperbesar krisis kepercayaan dan fragmentasi opini publik. Namun, kajian komunikasi politik masih terbatas dalam menjelaskan cara masyarakat pedesaan menyaring informasi melalui saluran kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis tradisi <em>Akkarungeng</em> sebagai Sistem Filter Informasi Berbasis Kultural dalam konstruksi opini publik pada Pilkades serentak masa transisi. Penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi dilaksanakan selama lima bulan, April–Agustus 2026, di Desa Timusu, Mattabulu, dan Watu Tuo, Kabupaten Soppeng. Data diperoleh melalui observasi partisipan dan wawancara mendalam terhadap 15 informan dengan menerapkan informed consent dan penyamaran identitas. Data tutur dianalisis menggunakan delapan komponen SPEAKING Dell Hymes dan empat tahapan etnografi James Spradley. Hasil penelitian menunjukkan refungsionalisasi Akkarungeng menjadi arena meritokrasi karakter. Pappaseng Bugis menguatkan interpersonal trust dan mendorong cultural retreat dari polarisasi siber. Temuan ini menawarkan konsep cultural epistemic resistance sebagai model ketahanan pengetahuan lokal terhadap disinformasi, sekaligus mendorong pemanfaatan Tudang Sipulung dalam literasi politik masyarakat.</p> Andi Syadaruddin, Yusri, Wandi, Aldi Hak Cipta (c) 2026 Andi Syadaruddin, Yusri, Wandi, Aldi https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/955 Mon, 26 Oct 2026 00:00:00 +0700 Kajian Etnografi Komunikasi dalam Tradisi Leva Nuang di Desa Lamalera https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/953 <p><em>Leva Nuang</em> adalah musim melaut atau musim menangkap ikan paus secara tradisonal di Desa Lamalera, Wulandoni, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Tradisi <em>Leva Nuang</em> berlangsung pada musim <em>Leva</em> (Mei–September) dan selalu didahului oleh serangkaian ritual adat yang sakral. Ritual tersebut meliputi ritual <em>Tobu Nama Fatta</em>, <em>Ie Gerek</em>, <em>Misa Arwah</em>, <em>Misa Leva</em> dan <em>Tena fule</em>. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tahapan-tahapan pelaksanaan tradisi <em>Leva Nuang</em> serta mengidentifikasi dan mendeskripsikan bentuk dan komponen komunikasi dalam tradisi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografi komunikasi dengan analisis SPEAKING dari Dell Hymes. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa setiap tahapan ritual menunjukkan adanya peristiwa komunikasi yang mencerminkan nilai adat, spiritualitas, dan kehidupan sosial masyarakat Lamalera. Delapan komponen komunikasi yang dianalisis meliputi <em>Setting, Participants, Ends, Act Sequence, Key, Instrumentalities, Norms, dan Genre</em>. Komponen tersebut tercermin dalam penggunaan ruang sakral, keterlibatan pemangku adat dan masyarakat, tujuan ritual, rangkaian doa dan syair adat, suasana sakral, penggunaan bahasa serta simbol budaya, aturan komunikasi, dan bentuk tuturan ritual. Tradisi<em> Leva Nuang</em> menjadi media komunikasi budaya yang memperkuat solidaritas sosial, menjaga hubungan dengan Tuhan, leluhur, dan alam, serta mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.</p> Bernard Mario Stenly Rianghepat, Ferly Tanggu Hana, Maria Yulita Nara Hak Cipta (c) 2026 Bernard Mario Stenly Rianghepat, Ferly Tanggu Hana, Maria Yulita Nara https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/953 Mon, 26 Oct 2026 00:00:00 +0700 Eksposur Konten TikTok dan Loyalitas Anggota di Sanare Studio dan Space Jakarta https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/981 <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh terpaan konten TikTok @studiosanare terhadap loyalitas anggota Sanare Studio and Space Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan landasan Teori Penggunaan dan Kepuasan (<em>Uses and Gratifications Theory</em>). Data dikumpulkan melalui kuesioner yang melibatkan 133 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terpaan konten TikTok berpengaruh positif dan signifikan secara statistik terhadap loyalitas anggota, dengan nilai t sebesar 13,191 dan signifikansi p &lt; 0,001. Koefisien regresi sebesar 0,595 menunjukkan bahwa peningkatan skor terpaan konten diikuti oleh peningkatan skor loyalitas yang diprediksi oleh model. Secara deskriptif, sebanyak 87,2% responden memberikan respons positif terhadap perhatian pada informasi harga, jadwal, dan fasilitas. Selain itu, 90,2% responden menjadikan Sanare sebagai pilihan pertama, sedangkan 91,0% bersedia merekomendasikan studio kepada calon pengguna. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,570 menunjukkan bahwa model menjelaskan 57% variasi skor loyalitas anggota, sementara 43% sisanya belum dijelaskan oleh model. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan variabel lain dan mengkaji perbedaan karakteristik responden untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai loyalitas anggota.</p> Alya Zahirah, Fajar Hariyanto, Hendry Roris P. Sianturi Hak Cipta (c) 2026 Alya Zahirah, Fajar Hariyanto, Hendry Roris P. Sianturi https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/981 Sat, 31 Oct 2026 00:00:00 +0700 Etnografi Kritis Tentang Konstruksi Identitas Atas Pembatalan Ritual Pembukaan Leva Masyarakat Lamalera https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/964 <p style="text-align: justify; margin: 0in 0in 12.0pt 0in;"><span style="font-size: 10.0pt;">Penelitian ini dilakukan dengan tujuan membongkar relasi kuasa yang dikonstruksikan melalui praktik komunikasi dalam pertarungan kepentingan atas pembatalan pembukaan masa <em>Leva </em>tahun 2025. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi praktik hegemoni melalui wacana dominan dalam mengkonstruksi identitas Masyarakat Lamalera pasca pembatalan ritual pembukaan masa <em>Leva </em>tahun 2025. Penelitian ini menggunakan Paradigma Kritis dengan metode Etnografi Kritis. Teori yang digunakan adalah teori Anthoni Gramscy yang menekankan pada proses pertarungan untuk mengamankan sumber kepentingan masing – masing. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembatalan ritual pembukaan masa leva bukanlah sebuah kegagalan teknis melainkan sebuah permainan antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan saling memperebutkan modal masing-masing. Komunikasi hadir sebagai ruang mediasa sekaligus mereproduksi dan menantang kekuasaan dan legitimiasi. Dampak yang ditimbulkan dari ketegangan ini tidak sebanding kuasa keputusan yang di ambil. Hal ini membuktikan bahwa adanya hegemoni yang berlapis yang melahirkan fragmentasi identitas yang tidak pernah bersifat final dan terus dinegosiasikan. </span></p> Martini Dominika Areq Hobamatan, Yermia Djefri Manafe, Yeheskial A. Roen Hak Cipta (c) 2026 Martini Dominika Areq Hobamatan, Yermia Djefri Manafe, Yeheskial A. Roen https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/964 Sat, 31 Oct 2026 00:00:00 +0700 Komunikasi Lingkungan Berbasis Ritual Adat https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/965 <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis pemaknaan masyarakat terhadap ritual adat <em>Pintu Manuk</em> sebagai praktik komunikasi lingkungan dan mengidentifikasi konstruksi sosial yang dibangun masyarakat terhadap ritual tersebut dalam membentuk hubungan manusia dengan lingkungan hidup di Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan metode fenomenologi Alfred Schutz, kemudian menganalisis temuan dengan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan delapan informan dari unsur pemimpin adat, pelaku ritual, pemerintahan, dan BKSDA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>Pintu Manuk</em> dimaknai sebagai percakapan dengan mitra tutur yang dihayati hadir, yaitu leluhur dan penjaga ruang, serta pada sebagian informan juga Tuhan, pada ambang tindakan manusia terhadap kebun, hutan, laut, dan air. Pesan lingkungan hadir melalui permintaan izin, pembacaan tanda, dan larangan adat seperti <em>pirong</em>. Ritual ini dikonstruksi melalui eksternalisasi dalam tindakan, ruang, waktu, dan benda; objektivasi dalam kewenangan, batas wilayah adat, dan larangan; serta internalisasi melalui pewarisan antargenerasi yang rapuh sekaligus lentur. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan generasi muda dan pendatang pesisir, membandingkan wilayah adat lain, serta menguji hubungan ritual dengan kondisi lingkungan melalui data lapangan.</p> Kezia Lelyani, Yermia Djefri Manafe, Yeheskial A. Roen Hak Cipta (c) 2026 Kezia Lelyani, Yermia Djefri Manafe, Yeheskial A. Roen https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://deliberatio.net/index.php/jikom/article/view/965 Sat, 31 Oct 2026 00:00:00 +0700