Komunikasi Lingkungan Berbasis Ritual Adat
(Studi Fenomologi Terhadap Ritual Pintu Manuk Pada Masyarakat Riung)
DOI:
https://doi.org/10.59895/deliberatio.v6i2.965Kata Kunci:
Komunikasi Lingkungan, Ritual Adat, Fenomenologi, Konstruksi Sosial, Pintu ManukAbstrak
Penelitian ini bertujuan menganalisis pemaknaan masyarakat terhadap ritual adat Pintu Manuk sebagai praktik komunikasi lingkungan dan mengidentifikasi konstruksi sosial yang dibangun masyarakat terhadap ritual tersebut dalam membentuk hubungan manusia dengan lingkungan hidup di Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan metode fenomenologi Alfred Schutz, kemudian menganalisis temuan dengan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan delapan informan dari unsur pemimpin adat, pelaku ritual, pemerintahan, dan BKSDA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pintu Manuk dimaknai sebagai percakapan dengan mitra tutur yang dihayati hadir, yaitu leluhur dan penjaga ruang, serta pada sebagian informan juga Tuhan, pada ambang tindakan manusia terhadap kebun, hutan, laut, dan air. Pesan lingkungan hadir melalui permintaan izin, pembacaan tanda, dan larangan adat seperti pirong. Ritual ini dikonstruksi melalui eksternalisasi dalam tindakan, ruang, waktu, dan benda; objektivasi dalam kewenangan, batas wilayah adat, dan larangan; serta internalisasi melalui pewarisan antargenerasi yang rapuh sekaligus lentur. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan generasi muda dan pendatang pesisir, membandingkan wilayah adat lain, serta menguji hubungan ritual dengan kondisi lingkungan melalui data lapangan.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Kezia Lelyani, Yermia Djefri Manafe, Yeheskial A. Roen

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.












