Representasi Budaya Manggarai dalam Film Nona Manis Sayange
(Analisis Semiotika Roland Barthes)
DOI:
https://doi.org/10.59895/deliberatio.v6i1.747Kata Kunci:
Budaya Manggarai, Film, Representasi Budaya, Semiotika, Simbol RitualAbstrak
Film memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap realitas sosial budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana budaya Manggarai ditampilkan dalam film Nona Manis Sayange. Penelitian ini juga ingin mengungkap makna denotatif dan konotatif dari budaya Manggarai yang ditampilkan dalam film serta memahami mitos budaya Manggarai yang terkandung dalam film tersebut. Penelitian ini dikaji menggunakan paradigma interpretif dengan jenis dan metode menggunakan kualitatif dan analisis menggunakan teori Semiotika Roland Barthes. Film Nona Manis Sayange mengungkap nilai-nilai filosofis dan spiritual yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Manggarai. Dari tarian adat Caci, Mbaru Gendang, pakaian adat, hingga berbagai tradisi dan ritual pernikahan yang menunjukkan kompleksitas sistem sosial masyarakat Manggarai. Dalam teori semiotika Roland Barthes, denotasi merujuk pada makna eksplisit, literal, atau utama dari sebuah tanda. Ini adalah representasi langsung dari sebuah objek atau fenomena, sebagaimana dipahami secara universal. Seperti dalam konteks film Nona Manis Sayange, denotasi dari budaya Manggarai adalah penggambaran sebenarnya sedangkan Konotasi melibatkan makna yang lebih dalam. Hal ini mencerminkan interpretasi nilai budaya yang terkait dengan representasi budaya Manggarai dalam film, selayaknya makna filosofis di balik ritual adat, simbolisme dalam tarian, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Manggarai yang terkandung dalam narasi film.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Claudius Edo Jeriman, Aloysius Liliweri, Roky Konstantin Ara

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.












